Makalah Pelapisan Sosial / stratifikasi

Pelapisan social

A. Pengertian

Definisi sistematik tentang Pelapisan Sosial antara lain dikemukakan oleh:

bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial.

menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.

juga menggunakan istilah stand juga dipakai olehnya.1)

B. Penyebab Pelapisan Sosial

Setiap masyarakat yang telah atau sedang menjalani masa transisi akan menunjukan pola perkembangan yang dipengaruhi oleh gejala – gejala dan masalah khusus, berkenaan dengan situasi geografis, ekonomis dan politis. Salah satu diantaranya adalah terjadinya pergolakan dan perubahan struktur masyarakat yang menyangkut perubahan kedudukan golongan – golongan social yang mempunyai peranan dan kekuasaan dalam menentukan arah dari gerak

Pelapisan social ada dalam masyarakat bukan saja karena ada perbedaan, tetapi karena kemampuan manusia menilai perbedaan itu dengan menerapkan criteria. Artinya menganggap sesuatu  ada yang dihargai – maka sesuatu itu (dihargai ) menjadi bibit yang menumbuhkan adanya system – system berlapis pada masyarakat.sesuatu yang di hargai dapat berupa uang, atau benda – benda bernilai ekonomis, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesolehan dalam agama, atau keturunan keluarga yang terhormat.2)


2) Munandar Soelaiman, Ilmu Sosial Dasar (Bandung, 1987), hal. 53.

C. Sifat – Sistem Pelapisan Sosial

  • Tertutup

Sifat system pelapisan social yang tertutup tidak memungkinkan pindahnya orang seorang dan suatu lapisan ke lapisan yang lain, baik bergerak pindahnya keatas maupun ke bawah. Keanggotaan dari suatu lapisan tertutup, diperoleh melalui kelahiran. System tertutup dapat dilihat pada masyarakat yang berkasta, dalam suatu masyarakat yang system berlapis- lapisan ditentukan oleh perbedaan rasial.

  • Terbuka

Setiap anggota mempunyai kesempatan buat berusaha dengan kecakapannya sendiri untuk naik lapisan social atau kalau tidak beruntung, dapat jatuh kelapisan bawah.3)

D. Bentuk – Bentuk Pelapisan Social

Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

·        Ukuran kekayaan

Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah.

Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.4)

3) Soelaiman, Op. Cit. hal 54.


·        Ukuran kekuasaan dan wewenang

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

·        Ukuran kehormatan

Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

·        Ukuran ilmu pengetahuan

Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.5)


E. Teori Fungsional ( Solusi )

Davis dan Moore (1945) melihat, bahwa pelapisan social mempunyai fungsi karena pelaku social dalam setiap masyarakat perlu disebar. Dalam kedudukan tertentu dalam suatu pola masyarakat. Dalam kedudukan tersebut pelaku social mempunyai tugas dan memperoleh ganjaran dengan cara – cara tertentu. Perbedaan martabat disebabkan oleh dua factor  yaitu

  • Perbedaan pentingnya fungsi kedudukan
  • perbedaan kelangkaan orang yang dapat menepati kedudukan sehubungan dengan tuntutan peranan dari kedudukan.

Tiap – tiap struktur social mempunyai tujuan tertentu dengan berbagai kedudukan. Dimana tugas berbagai kedudukan tersebut berbeda – beda kepentingannya. Dengan sendirinya kedudukan yang lebih penting secara fungsional dalam struktur social, mempunyai tingkatan – tingkatan yang lebih tinggi. Kedudukan menuntut semacam keahlian atau kemampuan yang diperoleh mungkin sebagai bakat atau melalui pendidikan, yang kadang – kadang sulit didapat. Agar kedudukan – kedudukan yang fungsional penting dan langka tenaganya dapat terisi, maka perlu disediakan imbalan – imbalan sebagai rangsangan dan motivasi untuk berusaha menempati kedudukan seperti itu. Penempatan atau penentuan alokasi imbalan serta hubungan dengan posisi – posisi, sesuai dengan tanggung jawab kolektif yang dibebankan atau dipercayakan sehingga seluruh system berjalan secara fungsional dan efektif.6)

6) Soelaiman, Op. Cit. hal. 58.

Daftar Putaka

  1. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar, Penerbit Eresco Bandung 1987

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: